HIVE.HUMAN-INITIATIVE.ORG, PALEMBANG — Kesibukan memasak mewarnai kebersamaan relawan HIVE Palembang dan warga Pulau Salah Nama, Senin (29/6/2026). Sejak pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, mereka bergotong royong menyiapkan hidangan dalam kegiatan bertajuk Berbagi Daging.
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyerahan bahan pangan. Relawan dan warga terlibat bersama dalam setiap proses, mulai dari mengolah bahan, menyiapkan hidangan, hingga menyantap hasil masakan dalam suasana penuh keakraban.
Di tengah aktivitas memasak, percakapan tumbuh dengan alami. Tawa sesekali terdengar, sementara tangan-tangan terus bekerja menyelesaikan hidangan. Tidak ada jarak antara relawan dan warga. Semua mengambil peran dan saling membantu sesuai kemampuan masing-masing. Relawan dan warga bergotong royong memasak serta menikmati hidangan bersama. Berbagi pun menjadi ruang perjumpaan yang menghangatkan.
Kebersamaan itu menjadikan hidangan yang tersaji terasa lebih dari sekadar makanan. Setiap sajian membawa pesan tentang kepedulian, persaudaraan, dan semangat untuk hadir bagi sesama.
Melalui Berbagi Daging, HIVE Palembang berupaya menghadirkan kegiatan kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Warga bukan hanya menjadi penerima manfaat, melainkan bagian penting dari aksi tersebut. Mereka ikut terlibat, berbagi cerita, dan menciptakan suasana kebersamaan sejak proses memasak dimulai.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa aksi kerelawanan dapat tumbuh dari kegiatan yang sederhana. Ketika relawan dan masyarakat berada dalam ruang yang sama, bekerja bersama, dan menikmati hasilnya bersama pula, hubungan kemanusiaan menjadi semakin kuat.
Bagi HIVE, berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada orang lain. Berbagi juga berarti menghadirkan rasa bahwa setiap orang saling memiliki, saling menguatkan, dan tidak harus menjalani kehidupan seorang diri.
Menjelang berakhirnya kegiatan, hidangan yang tersaji menjadi saksi dari gotong royong yang dibangun selama beberapa jam. Namun, kehangatan yang tercipta di Pulau Salah Nama tidak turut berakhir ketika kegiatan usai.
Dari sebuah dapur bersama, energi kebaikan terus menyala—bergerak dari satu tangan ke tangan lainnya, mendekatkan hati, dan menguatkan keyakinan bahwa kepedulian akan selalu menemukan jalannya.

