BUKITTINGGI — Kursi-kursi yang terisi di Kantor Kelurahan Guguak Bulek, Bukittinggi, Sabtu (26/9/2026), bukan sekadar menandai berlangsungnya sebuah pertemuan relawan. Di ruang itu, para anggota HIVE membawa pengalaman, pertanyaan, hingga kegelisahan yang mereka temukan ketika bergerak di tengah masyarakat.
Sebanyak 25 member HIVE hadir dalam HIVE Gathering Chapter Bukittinggi. Kehadiran mereka mencapai sekitar 90 persen dari jumlah undangan. Lebih dari sekadar mendengarkan materi, peserta terlibat aktif dalam diskusi mengenai berbagai tantangan yang ditemui dalam aktivitas kerelawanan.
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Human Initiative untuk menjaga agar semangat menolong tidak berhenti pada spontanitas.
Sebab, niat baik saja belum selalu cukup.
Relawan juga membutuhkan pemahaman tentang karakter, kepemimpinan, tata kelola organisasi, hingga kemampuan bekerja bersama orang lain.
Dalam rangkaian kegiatan, Ferry Suranto memberikan materi mengenai hakikat dan karakter relawan. Egi Gustiana Putra membahas kepemimpinan dan kerelawanan, sedangkan Arif Setyawan dari Volunteer Management memberikan penguatan mengenai tata kelola organisasi HIVE.
Agenda yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB itu juga menghadirkan sesi Volunteer Connecting, diskusi interaktif, Volunteer Upgrading, hingga ruang khusus untuk mendengar aspirasi, potensi, dan peluang gerakan lokal HIVE Bukittinggi.
Format tersebut memberi pesan penting: relawan bukan hanya tenaga pendukung sebuah kegiatan.
Mereka merupakan individu yang perlu terus bertumbuh.
Relawan perlu mengetahui mengapa sebuah aksi dilakukan, siapa masyarakat yang akan dilayani, risiko apa yang mungkin ditemui, hingga bagaimana sebuah inisiatif sosial dapat memberi manfaat yang lebih panjang.
Di Bukittinggi, proses penguatan itu memasuki fase yang lebih terstruktur. Catatan kegiatan menunjukkan kepengurusan chapter telah terbentuk dengan struktur organisasi yang cukup lengkap. Penandatanganan SK dan pelantikan HIVE Chapter Bukittinggi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Enam unit rompi relawan kemudian diserahterimakan sebagai atribut pendukung aktivitas chapter.
Namun, sebuah chapter tentu tidak cukup hanya dengan struktur.
Tantangan berikutnya adalah memastikan struktur tersebut menghasilkan gerakan.
Karena itu, keberadaan jaringan kolaborasi yang disebut telah terjalin cukup baik dengan organisasi eksternal menjadi modal penting. Kolaborasi dapat membuka lebih banyak ruang bagi relawan untuk terlibat dalam isu sosial, pendidikan, lingkungan, kebencanaan, maupun berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.
HIVE Gathering Bukittinggi akhirnya memperlihatkan satu pelajaran sederhana: energi kebaikan perlu dirawat.
Semangat dapat membawa seseorang datang menjadi relawan untuk pertama kali. Tetapi pengetahuan, rasa memiliki, kepemimpinan, dan organisasi yang sehatlah yang dapat membuatnya bertahan dan terus menghadirkan manfaat.
Dari ruang pertemuan di Guguak Bulek itu, tantangan selanjutnya dimulai: mengubah koneksi menjadi kolaborasi, pengetahuan menjadi aksi, dan aksi menjadi perubahan yang semakin berarti bagi masyarakat.

