PADANG — Banyak gerakan kerelawanan lahir dari kepedulian. Namun agar kepedulian mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan, relawan membutuhkan kapasitas, kepemimpinan, dan organisasi yang dapat mengarahkan energi tersebut menjadi aksi nyata.
Semangat inilah yang mengemuka dalam HIVE Gathering Chapter Padang, Minggu (27/9/2026), yang diselenggarakan Human Initiative di Padang.
Kegiatan tersebut diikuti 18 member dengan tingkat kehadiran yang dicatat sebesar 70 persen dari undangan. Peserta mengikuti rangkaian penguatan mulai dari pondasi kerelawanan, leadership, diskusi interaktif, pengenalan value dan culture HIVE, hingga ruang diskusi mengenai aspirasi, potensi, dan gerakan lokal.
Melalui kegiatan ini, pengembangan relawan diarahkan setidaknya pada tiga kebutuhan utama.
Pertama, memperkuat pondasi nilai.
Relawan berhadapan langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi. Karena itu, karakter, empati, tanggung jawab, dan pemahaman terhadap kemanusiaan menjadi fondasi sebelum seseorang berbicara mengenai program maupun aktivitas lapangan.
Materi mengenai hakikat dan karakter relawan diberikan oleh Ferry Suranto dalam rangkaian penguatan peserta.
Kedua, membangun kapasitas kepemimpinan.
Gerakan relawan sering kali berkembang dari kelompok kecil. Di sinilah kemampuan berkomunikasi, mengambil peran, membangun tim, dan menjaga semangat anggota menjadi penting. Egi Gustiana Putra memberikan materi kepemimpinan dan kerelawanan sebagai salah satu bagian dari proses tersebut.
Ketiga, membangun organisasi yang mampu menjaga keberlanjutan gerakan.
Volunteer Management Human Initiative melalui Arif Setyawan memberikan sosialisasi tata kelola organisasi HIVE. Peserta kemudian diajak masuk ke ruang diskusi HIVE Padang untuk membicarakan aspirasi, potensi, serta peluang gerakan yang dapat dikembangkan di tingkat lokal.
Catatan penyelenggara menunjukkan kepengurusan HIVE di Padang telah terbentuk dengan struktur yang dinilai cukup lengkap. Kolaborasi dengan organisasi eksternal juga disebut telah berjalan cukup baik. Lima unit rompi relawan diserahkan untuk mendukung aktivitas chapter.
Modal tersebut membuka ruang bagi HIVE Padang untuk bergerak lebih jauh.
Ke depan, tantangannya bukan hanya memperbanyak kegiatan, melainkan memastikan setiap aktivitas menjawab kebutuhan masyarakat. Sebuah chapter dapat mulai dengan memetakan persoalan sosial di wilayahnya, menentukan isu prioritas, membangun kolaborasi, kemudian mengembangkan aksi yang terukur.
Pendekatan seperti ini penting agar gerakan volunteer tidak identik dengan aktivitas seremonial.
Relawan justru dapat menjadi kekuatan sosial yang membantu masyarakat menemukan solusi, memperkuat solidaritas lokal, dan menghadirkan respons yang lebih cepat ketika muncul kebutuhan kemanusiaan.
HIVE Gathering Padang menjadi bagian dari proses tersebut—menghubungkan semangat kerelawanan dengan kapasitas dan tata kelola.
Karena pada akhirnya, perubahan yang besar tidak selalu bermula dari sebuah program besar. Ia dapat dimulai dari sekelompok orang di satu kota yang memiliki kepedulian yang sama, lalu memilih untuk mengelolanya dengan lebih terarah.

